Oleh: DR. H. Abid Muhtarom, SE., SPd., MSE
(Dekan Fakultas Ekonomi, wakil ketua dewan pengupahan kabupaten Lamongan)
Lamongan, KabarOneNews.com-Program MBG (Makan Bergizi) yang kini digencarkan di Kabupaten Lamongan dan berbagai daerah menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, terutama bagi anak sekolah, ibu hamil, dan kelompok rentan. MBG bukan hanya sekadar program penyediaan makanan bergizi, tetapi hadir sebagai gerakan sosial yang memperlihatkan kepedulian pemerintah terhadap masa depan generasi muda. Dampaknya terlihat langsung di lapangan: sekolah-sekolah kini rutin menyajikan menu sehat, para orang tua merasa terbantu, dan instansi daerah bergerak serempak memastikan gizi masyarakat terpenuhi. Namun di balik keberhasilan ini, muncul fenomena ekonomi yang harus kita sikapi dengan bijak, yaitu meningkatnya harga sejumlah bahan pangan.
Seiring MBG diperlihatkan secara masif melalui penyediaan menu harian bergizi, permintaan bahan pangan meningkat dengan signifikan. Sayur-mayur segar dibutuhkan setiap hari, kebutuhan telur melonjak karena menjadi komponen utama menu protein, buah-buahan menjadi standar konsumsi, beras harus tersedia dalam jumlah besar, minyak goreng dan gas meningkat kebutuhannya karena proses memasak berlangsung di banyak lokasi. Lonjakan permintaan ini pada akhirnya memengaruhi rantai pasok. Di beberapa titik pasar, harga sayur naik, beberapa jenis buah lebih mahal dari biasanya, dan beberapa kebutuhan pokok mengalami kenaikan bertahap. Ini adalah situasi yang muncul bukan karena spekulasi pasar, melainkan respons alami dari sistem pasokan yang belum sepenuhnya siap menghadapi permintaan besar dalam waktu cepat.
Kenaikan harga pangan tersebut harus dilihat dalam perspektif yang konstruktif. Program MBG adalah program baik, program yang wajib kita dukung sepenuhnya. Tetapi agar MBG dapat berjalan stabil dan memberikan manfaat jangka panjang, daerah harus menyiapkan pondasi ekonomi yang kuat. Kesiapan ini terutama terletak pada kemampuan daerah untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya sendiri. Selama ini, sebagian pasokan pangan Lamongan masih berasal dari luar daerah. Ketika permintaan meningkat secara signifikan karena MBG, pasokan luar menjadi tidak seimbang dengan kebutuhan lokal. Akibatnya, harga terdorong naik karena tingginya biaya logistik, terbatasnya stok, dan panjangnya rantai distribusi.
Lamongan sebenarnya memiliki potensi luar biasa untuk mandiri dalam pasokan pangan. Sebagai daerah agraris dan perikanan, Lamongan menghasilkan beras, sayur, buah, telur, ayam, daging sapi, hingga komoditas hortikultura. Namun potensi ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam sistem produksi dan distribusi yang kuat. Inilah saatnya kita melihat MBG bukan sebagai beban, tetapi sebagai momentum memperkuat kemandirian pangan daerah. Program ini dapat menjadi motor penggerak untuk membangun ekosistem pasokan lokal yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Salah satu aktor paling strategis dalam mewujudkan ekosistem ini adalah Koperasi Desa Merah Putih. Koperasi memiliki kapasitas untuk menjadi pusat agregasi produk lokal, baik dari petani, peternak, nelayan, maupun UMKM. Dengan jaringan desa yang luas, koperasi dapat menyerap produksi langsung dari masyarakat desa, kemudian mendistribusikannya ke lembaga-lembaga yang membutuhkan, termasuk sekolah-sekolah yang menjalankan MBG. Koperasi mampu memperpendek rantai pasok, sehingga harga lebih terkontrol dan kualitas barang lebih mudah dijaga.
Jika koperasi desa berfungsi optimal sebagai suplayer lokal, maka kebutuhan sayur, beras, telur, buah, hingga produk olahan lainnya dapat dipenuhi langsung dari desa. Petani akan mendapat pasar yang pasti, harga lebih stabil, dan pendapatan meningkat. Di sisi lain, pemerintah daerah tidak perlu lagi terlalu bergantung pada pemasok luar daerah. MBG pun bisa berjalan lebih efisien karena sumber bahan baku berada dekat dengan titik konsumsi. Koperasi dapat menjadi pusat data produksi, pengendali kualitas, dan pengatur stok sehingga ketersediaan bahan pangan dapat direncanakan lebih baik.
Namun, koperasi tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan kuat dari UMKM. Peran UMKM sangat penting terutama dalam pengolahan pangan siap saji, pembuatan lauk pendamping, bumbu masakan, camilan bergizi, dan produk-produk alternatif yang dapat memperkaya menu MBG. UMKM Lamongan sebenarnya memiliki kreativitas tinggi dan kemampuan inovasi yang kuat, tetapi banyak yang belum terhubung langsung dengan program pemerintah dan koperasi desa. Ini menjadi kesempatan besar untuk mengintegrasikan UMKM ke dalam ekosistem MBG.
UMKM dapat menjadi penyedia lauk olahan, seperti abon ikan, nugget ayam sehat, tempe dan tahu olahan, keripik buah bergizi, hingga makanan pendamping yang higienis. Jika UMKM dapat masuk dalam sistem rantai pasok MBG melalui koperasi, maka perekonomian lokal akan bergerak lebih dinamis. Selain itu, standar kesehatan dan keamanan pangan akan lebih terjaga karena UMKM bisa diberikan pelatihan dan sertifikasi melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan koperasi.
Program MBG yang diperlihatkan sebagai gerakan besar untuk meningkatkan kualitas gizi seharusnya menjadi pemicu modernisasi sistem pangan daerah. Kita harus melihat MBG sebagai peluang jangka panjang, bukan sekadar rutinitas harian. MBG memaksa kita untuk memperbaiki cara kerja rantai pasok, memperpendek jalur distribusi, meningkatkan produksi petani lokal, mendorong koperasi untuk bertransformasi, dan memacu UMKM agar naik kelas. Ini adalah rantai yang jika digerakkan bersama akan menciptakan kemandirian pangan yang kokoh.
Kenaikan harga pangan yang terjadi hari ini adalah sinyal sekaligus peluang. Sinyal bahwa sistem pangan kita perlu diperkuat, dan peluang untuk membangun fondasi ekonomi lokal yang lebih mandiri. Lamongan harus mengambil kesempatan ini dengan mempercepat gerakan kemandirian bahan baku lokal. Jika semua elemen bersinergi petani, UMKM, koperasi, pemerintah daerah, dan dunia pendidikan maka MBG tidak hanya berhasil sebagai program gizi, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah.
Dengan memperkuat bahan baku lokal, mengoptimalkan Koperasi Desa Merah Putih, dan mempersiapkan UMKM untuk berperan aktif, Lamongan dapat meningkatkan ketahanan pangan sekaligus memastikan keberlanjutan program MBG. Program yang baik membutuhkan sistem yang kuat. MBG telah memperlihatkan jalan, tinggal bagaimana kita menyiapkan kekuatan lokal untuk berjalan bersamanya. Dengan demikian, kenaikan harga pangan bukan lagi ancaman, melainkan momentum untuk membangun kemandirian pangan daerah yang lebih tangguh, stabil, dan menyejahterakan masyarakat.(*).



















