SAMARINDA — kabaronenews.com – Sebuah narasi besar dalam konstelasi seni rupa kontemporer Kalimantan Timur resmi bergulir.
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kalimantan Timur secara kuratorial mengumumkan 13 penerima stimulan dana Fasilitas Pemajuan Kebudayaan 2026 Tahap Pertama.
Dalam ketatnya proses seleksi, peta penerima bantuan terpolarisasi ke dalam dua ranah. Lima representasi kolektif (komunitas) dan delapan representasi individual.
Di garda depan barisan maestro perorangan, menyeruak satu nama yang telah lama menjadi pilar visual regional: Ariyadi, sang perupa yang lebih intim diidentifikasi publik melalui nama kuasnya, Cadio Tarompo.
Sakralitas Kontrak EstetikKlimaks administratif yang emosional terjadi pada Senin, 18 Mei 2026.
Ruang Rapat Kantor BPK Kalimantan Timur bertransformasi menjadi ruang penandatanganan kontrak yang sarat akan tanggung jawab kultural.
Acara ini diorkestrasi langsung oleh Kepala BPK Wilayah XIV, Titi Lestari, didampingi Kasubag Umum, Tisna Arif Ma’rifat.
Atmosfer ruang rapat terasa magis saat delapan penerima manfaat—termasuk Cadio Tarompo—menorehkan tinta komitmen di atas kertas secara langsung.
Sementara itu, lima penerima lainnya terpaksa merayakan momentum ini dari balik layar virtual.
Kendala jarak geografis Kalimantan yang membentang luas menuju episentrum Samarinda melegitimasi ketidakhadiran fisik mereka.
Namun, hal tersebut sama sekali tidak mereduksi sakralitas komitmen pemajuan budaya yang diemban.”Jejak Waktu”: Manifesto 55 Tahun Pengembaraan Visual
Stimulus dari negara ini bertindak sebagai katalis lahirnya sebuah peristiwa kebudayaan yang monumental: Pameran Tunggal Cadio Tarompo bertajuk “Jejak Waktu: 55 Tahun Perjalanan dalam Karya”.
Eksibisi yang dinantikan ini dijadwalkan mengokupasi ruang pamer Kantor BPK Kalimantan Timur, Samarinda Seberang, pada akhir Juli mendatang.Bagi Cadio, pameran tunggal ini bukan sekadar unjuk karya, melainkan sebuah magnum opus dan ritus transisi spiritual.
“Saya mulai menapaki jalan sunyi seni lukis sejak tahun 1990. Dan tepat pada tahun 2005, sebuah visi tentang pameran tunggal mulai mengkristal dalam benak saya. Alhamdulillah, tahun ini imajinasi itu mewujud menjadi realitas kebudayaan. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah pencapaian estetik,” urai Cadio, menyiratkan keharuan mendalam atas penantian dua dekade.
Reputasi Global dan Jeritan Ekosistem LokalCadio Tarompo bukanlah nama asing dalam diskursus seni rupa modern.
Berbasis di Balikpapan, rekam jejaknya mengakar kuat di level nasional dan menjalar ke kancah global.Ia adalah veteran yang telah menguji ketajaman visualnya di berbagai medan laga seni rupa prestisius.
Mulai dari Jakarta Art Award, Indonesia Art Award, UOB Art Award, hingga Mandiri Art Award.
Kanvas-kanvasnya pun telah melanglang buana, melakukan diplomasi budaya di galeri-galeri penting di China, Hong Kong, Malaysia, Singapura, Vietnam, hingga Jerman.
Namun, di balik kegemilangan global tersebut, pameran tunggal ini membawa misi otentik bagi tanah kelahirannya.
“Melalui pameran tunggal ini, saya menggalisir energi baru untuk merawat konsistensi proses kreatif dan melahirkan inovasi ragam rupa yang segar. Besar harapan saya, masyarakat Kalimantan Timur, khususnya korporasi dan pemerintah, mampu memberikan apresiasi konkret,” tegas Cadio penuh harap.
Ia menutup pernyataannya dengan sebuah refleksi kritis namun optimis bagi dunia seni rupa daerah: “Kita membutuhkan tindakan nyata, bukan sekadar pujian, agar ekosistem seni rupa di Kalimantan Timur tidak mati suri, melainkan tumbuh menjadi ekosistem yang sehat, berkelanjutan, dan bermartabat.”
NK


















