PALU – kabaronenews.com – Matahari baru saja menyembul di ufuk timur Kota Palu pada Minggu pagi (17/05/2026).
Ketika embun subuh masih membasahi bumi Tadulako, gema takbir dan zikir dari Masjid Hijau Al Amiin Bukit Tursina, Kelurahan Kabonena, Kecamatan Palu Barat, belum sepenuhnya reda.
Di sanalah, setelah menunaikan kewajiban shalat subuh berjamaah, 12 ksatria fajar melangkah dengan satu tekad suci.
Mereka adalah delegasi dari Barisan Pencinta Ulama, para jamaah Majelis Dzikir Nuurul Khairaat.
Langkah kaki mereka tertuju ke sebuah rumah di Jalan Nuri, Kelurahan Tanamodindi, kediaman Wali Kota Palu, Haji Hadianto Rasyid.
Kunjungan ini bukan sekadar pertemuan birokrasi biasa, melainkan sebuah ikhtiar merajut tali silaturahmi yang diwajibkan oleh Rasulullah ﷺ, sekaligus mengkomunikasikan cetak biru perjuangan umat.
Sebanyak 12 nama tercatat hadir membawa amanah besar ini: Nirmansyah, Muammar Khadafi, Karim, Zulham, Ramadhan, M. Fadlan, Mustakim, Usman, Andi, Rudiyanto, Bayu, dan Rizal.
Kehangatan di Meja Silaturahmi
Pertemuan yang telah dikoordinasikan sebelumnya dengan staf protokoler ini disambut langsung dengan penuh kehangatan oleh Wali Kota Palu, yang didampingi oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Kota Palu.
Di bawah keteduhan pagi, suasana kekeluargaan yang kental langsung terasa. Hidangan kopi hangat dan aneka jajanan pasar menjadi saksi bisu dialog yang sarat akan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah.
Dalam suasana penuh berkah tersebut, Nirmansyah didaulat menjadi penyambung lidah jamaah untuk memaparkan sebuah usulan monumental, Pendirian Lembaga Sosial Barisan Pencinta Ulama yang mengusung trilogi perjuangan: “Khidmat, Dakwah, dan Kemanusiaan”.
Pemaparan Ringkas Panggilan Langit
Di hadapan Wali Kota, Nirmansyah menjelaskan secara taktis bahwa lembaga ini merupakan peleburan dari PEMAL (Pengawal Majelis) dan RELWA (Relawan Wanita).
Gerakan ini murni lahir dari akar rumput—para pekerja serabutan dan ibu rumah tangga—yang bergerak tanpa upah demi menjaga marwah para Waratsatul Anbiya (Ulama) serta membantu sesama saat bencana. Kini, mereka ingin bermutasi menjadi lembaga formal.
“Kami ingin menjemput amanah umat secara profesional. Wadah legal ini dibentuk agar bisa bermitra dengan para muhsinin (donatur) secara transparan, sehingga jangkauan aksi sosial dan dakwah kami bisa semakin luas,” papar Nirmansyah ringkas namun padat.
Respons Mendalam dan Arahan Strategis Wali Kota
Mendengar pemaparan tersebut, Wali Kota Palu, Haji Hadianto Rasyid, tampak tersentuh sekaligus bangga. Beliau tidak hanya menyetujui, tetapi memberikan wejangan mendalam yang membakar semangat para delegasi.
Bagi Wali Kota, gerakan kerelawanan yang lahir dari ketulusan hati seperti ini adalah aset berharga bagi Kota Palu.
Beliau menekankan pentingnya legalitas hukum bukan sekadar urusan administrasi di atas kertas, melainkan sebagai perisai dan penguat gerakan.
“Segera urus badan hukum dan legalitas formal. Di dalam Islam, keteraturan dan manajemen yang rapi adalah kunci kemenangan. ‘Kebenaran yang tidak terorganisir dengan baik akan dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir’. Dengan adanya kepastian hukum, pemerintah dan pihak swasta memiliki payung yang jelas untuk bersinergi dengan kalian,” tegas Wali Kota penuh perhatian.
Lebih jauh, Wali Kota memberikan analisis tajam terkait visi gerakan ini. Beliau mengusulkan perubahan nama yang awalnya “Barisan Pencinta Ulama” menjadi “Barisan Penjaga Ulama”.
“Jika hanya ‘Pencinta’, sifatnya pasif dan ada di dalam hati. Namun kata ‘Penjaga’ mengandung makna aktif, taktis, dan protektif. Kamu tidak hanya mencinta, tapi berdiri di garda terdepan untuk membentengi marwah guru-guru kita dan melindung kaum dhuafa melalui aksi nyata. Gunakan nama Penjaga agar gaungnya lebih nyata dan terarah!” cetus orang nomor satu di Kota Palu tersebut.
Wali Kota juga mengingatkan agar semangat Ikhlasun Niat tidak luntur meski nanti lembaga ini sudah membesar dan menjadi formal.
Beliau meminta agar nilai-nilai dalam Al-Qur’an dan hadits, terutama semangat menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama (khairunnas anfa’uhum linnas), tetap menjadi ruh utama gerakan.
Menutup Pagi dengan Doa
Nasihat dan arahan dari Wali Kota berdentum menjadi pelecut semangat baru bagi 12 anggota Barisan Penjaga Ulama.
Pertemuan penuh berkah tersebut diakhiri dengan jabat tangan erat dan foto bersama.
Sebagaimana keyakinan mereka yang tertuang dalam doa penutup:
“Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikman nasir.” (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia-lah sebaik-baik pelindung). (QS. Ali ‘Imran: 173).
Langkah kaki mereka kembali ke Bukit Tursina dengan keyakinan baru, membawa restu dan arahan strategis untuk mengukir sejarah dakwah yang profesional di Kota Palu.
Sebuah kisah kerelawanan yang diukir di dunia, dengan harapan besar akan membekas hingga ke akhirat.
NK



















