PALU – kabaronenews.com – Kota Palu mendadak teduh oleh lantunan Sholawat dan derap langkah puluhan ribu pencinta ilmu.
Pada 1 April 2026, kompleks Alkhairaat di Jalan Sis Aljufri saksi bisu bagi sebuah gelombang spiritual yang dahsyat.
Tak kurang dari 75 ribu jemaah dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul, memadati setiap sudut ruang demi satu tujuan: menghidupkan kenangan dan meneladani kemuliaan akhlak sang fajar pendidikan Indonesia Timur, Habib Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, yang akrab dicintai sebagai Guru Tua.
Suasana khidmat kian terasa sejak pembukaan Festival Raudhah pada 28 Maret lalu, yang mencapai puncaknya hari ini.
Kehadiran tokoh-tokoh bangsa, seperti Menteri Agama RI Nasaruddin Umar dan Menteri ATR/BPN RI Nusron Wahid, seolah menjadi pengakuan negara atas besarnya jasa sang ulama dalam merajut tenun kebangsaan melalui jalur dakwah dan pendidikan.
Lentera yang Tak Pernah Padam
Di atas mimbar yang penuh wibawa, Ketua Utama Alkhairaat, Alwi bin Saggaf bin Muhammad Al-Jufri, menggetarkan hati jemaah dengan untaian tausiyahnya.
Beliau menggambarkan sosok Guru Tua bukan sekadar pendidik, melainkan pejuang yang menghibahkan seluruh embusan napasnya untuk umat.
“Beliau menyabung nyawa, melintasi samudera luas hingga menembus pedalaman Maluku dan Kalimantan dengan sarana yang amat bersahaja. Di masa itu, tak ada kemewahan transportasi, hanya ada ketulusan hati,” kenang Alwi dengan nada bergetar.
“Beliau memangkas semua kenikmatan pribadinya demi memastikan cahaya Islam sampai ke relung hati masyarakat. Seluruh harta, waktu, dan usianya adalah wakaf abadi bagi kita semua.”
Pesan mendalam pun disematkan: bahwa kebahagiaan sejati bukanlah pada apa yang kita simpan, melainkan pada apa yang kita korbankan di jalan Allah SWT.
Kini, warisan besar berupa ribuan madrasah adalah amanah yang menuntut pembuktian dari generasi penerus.
Langkah Nyata Merawat Amanah
Semangat Guru Tua dalam memuliakan ilmu pengetahuan juga memantik tekad pemerintah daerah.
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menegaskan komitmennya untuk mengintegrasikan nilai-nilai Alkhairaat ke dalam sistem pendidikan formal melalui kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun.
“Amanah Guru Tua tentang pendidikan Madrasah Diniyah Awaliyah harus masuk dalam regulasi negara. Kita sedang berjuang agar kebijakan ini menjadi payung hukum tetap, sehingga fondasi akhlak anak-anak kita semakin kokoh,” ujar Anwar Hafid di hadapan jemaah.
Pengamanan yang Humanis
Meski lautan manusia memadati pusat kota, suasana tetap berjalan tertib di bawah pengamanan berlapis dari Polda Sulteng.
Rekayasa lalu lintas yang dilakukan di sekitar Jalan Sis Aljufri memastikan arus jemaah tetap lancar, menciptakan harmoni antara keriuhan syiar dan ketenangan ibadah.
Haul ke-58 ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah momentum bagi umat untuk kembali “pulang” ke nilai-nilai luhur yang diajarkan Guru Tua: bahwa di atas segala perbedaan, hanya ilmu dan ketakwaanlah yang mampu meninggikan derajat manusia di hadapan Sang Khalik.
NK



















