PALU – kabaronenews.com – Aroma keberkahan mulai menyeruak di sepanjang Jalan SIS Al-Jufri, Kelurahan Kamonji.
Kawasan yang menjadi saksi bisu jejak dakwah sang Pencerah dari Timur ini kini tengah bersolek, bersiap bertransformasi menjadi samudera putih bagi puluhan ribu umat yang datang membawa satu kerinduan: meneladani sang kekasih Allah.
Menjelang puncak peringatan Haul ke-58 Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (Guru Tua) pada Rabu, 1 April 2026 (12 Syawal 1447 H), Pemerintah Kecamatan Palu Barat kian mematangkan khidmatnya.
Bukan sekadar persiapan teknis, ini adalah upaya memuliakan para tamu yang datang dari berbagai penjuru langit demi memetik hikmah dari sang mahaguru.
Tak kurang dari 75.000 jamaah—para Abnaul Khairaat yang setia menjaga warisan ilmu—diprediksi akan membanjiri jantung Kota Palu.
Camat Palu Barat kini memegang amanah besar, memastikan setiap jengkal infrastruktur di Kompleks Alkhairaat siap menyambut kedatangan para pencari syafaat dan ilmu.
Festival Raudhah: Nafas Kemandirian di Jalur Dakwah
Sebagai pembuka tirai keberkahan, Festival Raudhah SIS Al-Jufri 2026 telah resmi memecah keheningan pada Sabtu malam (28/3).
Selama tiga hari hingga 30 Maret, festival ini hadir bukan sebagai perayaan duniawi semata, melainkan manifestasi kemandirian ekonomi umat yang dibungkus dalam syiar yang teduh.
Puluhan tenant UMKM berjejer rapi, menjadi bukti bahwa dakwah dan kesejahteraan umat adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
“Kami memandang Festival Raudhah ini sebagai jembatan keberkahan. Ini bukan hanya ajang syiar yang megah, tapi bentuk khidmat nyata kami dalam mendukung warisan Guru Tua yang selalu menekankan pentingnya umat yang berdaya,” ujar Camat Palu Barat, Khomaeni, S.Sos, di sela-sela pembukaan festival.
Khidmat Keamanan: Memuliakan Tamu Allah
Menyadari bahwa melayani tamu ulama adalah sebuah kemuliaan yang bernilai ibadah, pihak kecamatan bersinergi erat dengan Polda Sulteng dan para tokoh masyarakat.
Fokus utama bukan lagi sekadar ketertiban administratif, melainkan penjagaan kenyamanan batin para jamaah agar doa-doa dapat terucap dengan khusyuk.
Beberapa poin krusial yang menjadi atensi utama meliputi:
Aliran Arus Keberkahan: Pengaturan ketat di titik krusial Jalan SIS Al-Jufri dan Jalan Mangga diberlakukan untuk memastikan pergerakan jamaah tetap teduh, tenang, dan teratur.
Ihsan dalam Kebersihan: Mengusung semangat “Kebersihan Sebagian dari Iman”, seluruh fasilitas umum dipastikan dalam kondisi prima demi menjaga kesucian tempat ibadah.
Sinergi Ukhuwah: Seluruh lurah di wilayah Palu Barat dikerahkan untuk menjaga kondusivitas lingkungan, menjadikan setiap sudut wilayah ini sebagai rumah yang hangat bagi para pendatang.
Puncak Kerinduan
Puncak dari segala persiapan ini akan bermuara pada Rabu pagi, 1 April 2026, mulai pukul 07.00 WITA.
Saat matahari mulai naik, lantunan tahlil, selawat, dan doa akan membubung ke langit Palu, mengetuk pintu arsy demi keberkahan negeri.
Masyarakat pun diimbau untuk menjaga adab dan akhlakul karimah, demi menjaga kemuliaan agenda religi tahunan terbesar di Indonesia Timur ini.
“Melayani puluhan ribu jamaah Haul adalah bentuk khidmat kecil kami kepada sosok yang telah mewakafkan seluruh hidupnya untuk umat. Menjadi tuan rumah bagi Haul Guru Tua adalah kemuliaan sekaligus tanggung jawab langit. Kami ingin setiap tamu merasakan kehangatan dan keberkahan yang terpancar dari sosok Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri,” pungkas Khomaeni dengan nada penuh haru.
NK



















