PALU – kabaronenews.com – Gema takbir berkumandang membelah kesunyian fajar di Kota Palu, Jumat (20/03/2026). Di bawah naungan langit 1 Syawal 1447 Hijriah, ribuan kaum muslimin dan muslimat Muhammadiyah memadati halaman Rektorat Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu.
Sejak pukul 06.00 WITA, gelombang jemaah berbaju putih tampak bak samudera kesucian yang rindu akan ampunan Ilahi.
Tahun ini, warga Muhammadiyah merayakan Idul Fitri lebih awal dari ketetapan pemerintah pusat. Namun, perbedaan penanggalan itu seolah luruh dalam kekhusyukan sujud yang dipimpin oleh Ustaz Syamsul sebagai Imam sholat.
Puncak keharuan pecah saat Dr. Abdul Mubarik menaiki mimbar khotbah. Dengan suara yang bergetar penuh wibawa namun menyimpan kesedihan mendalam, beliau mengupas tuntas tentang wasiat langit: Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua).
“Surga itu bukan di tempat yang jauh, ia berada tepat di bawah telapak kaki ibu kalian,” ujar Dr. Abdul Mubarik dengan nada bicara yang mulai tersedat.
Di hadapan ribuan jemaah yang terpaku diam, sang khatib melukiskan kembali memori tentang perjuangan seorang ibu.
Ia mengisahkan bagaimana rahim seorang ibu menjadi saksi bisu pertaruhan nyawa antara hidup dan mati demi menghadirkan kita ke dunia. Air mata Dr. Abdul Mubarik pun tumpah, membasahi pipi saat menceritakan kepedihan hati seorang ibu yang meski sering dilupakan atau dikhianati oleh anak-anaknya saat dewasa, lisan sucinya tak pernah berhenti melangitkan doa-doa terbaik.
Beliau mengingatkan pesan Rasulullah SAW yang menempatkan derajat ibu tiga kali lebih tinggi sebelum ayah, sebagai pengingat betapa mulianya sosok yang telah memberikan kasih sayang tanpa batas itu.
“Mungkin hari ini baju kita baru, tapi tanyakan pada hati kita, sudahkah bakti kita kepada orang tua diperbarui? Jangan sampai kita bersujud di hadapan Allah, namun menjadi durhaka di hadapan manusia yang menjadi perantara kehadiran kita di dunia,” pesannya dengan nada menyayat hati yang membuat isak tangis jemaah pecah di sela-sela hembusan angin pagi.
Khutbah ditutup dengan ajakan untuk memuliakan orang tua selagi mereka masih bernapas, atau mengetuk pintu langit melalui doa jika mereka telah tiada.
Idul Fitri di Unismuh Palu tahun ini bukan sekadar perayaan kemenangan atas lapar dan dahaga, melainkan sebuah momentum kepulangan jiwa untuk bersimpuh di kaki ibu dan ayah.
NK



















