“Kemegahan Infrastruktur Akan Runtuh Makna Jika Budaya Dimatikan”
BALIKPAPAN, KABARONENEWS.COM — Ketua Pameran Retrospektif _’Jejak Waktu’_, Panca Bayumurti, melayangkan kritik terbuka terkait minimnya apresiasi terhadap dunia seni di Balikpapan. Ia menilai kemegahan pembangunan fisik kota tidak akan bermakna jika ekosistem kebudayaan dibiarkan mati.
Pernyataan itu disampaikan Panca pada Selasa (28/7/2026) di sela Pameran “Jejak Waktu 55 Tahun Perjalanan dalam Karya”yang digelar di Balikpapan.
Panca melayangkan “gugatan estetis” terhadap kondisi ruang apresiasi seni di Balikpapan. Ia menyoroti dua hal: sepi nya pejabat publik dan minimnya kehadiran sesama seniman di pameran.
Pameran retrospektif yang menampilkan karya Cadio Tarompo selama 55 tahun itu disebut sukses menarik perhatian mahasiswa, akademisi, dan media. Namun Panca menilai euforia itu belum cukup.
Tokoh utama adalah Panca Bayumurti selaku Ketua Pameran. Ia juga menyorot sosok “Cadio Tarompo”, perupa senior Balikpapan yang selama lebih dari setengah abad berkarya dan merawat ingatan kolektif kota.
Panca menyasar kritiknya kepada 3 pihak: Pemerintah Daerah, Komunitas Seniman, dan Masyarakat/Media.
Pernyataan disampaikan di lokasi Pameran ‘Jejak Waktu’ di Balikpapan, Kalimantan Timur.Kritik dan refleksi filosofis itu disampaikan pada Selasa, (28/07/ 2026).
Menurut Panca, kehadiran kepala daerah atau pejabat di pameran seni bukan soal protokoler.
“Kehadiran mereka adalah maklumat politik yang nyata kepada publik. Itu penegasan bahwa negara tidak hanya membangun raga kota, tetapi juga menyuntikkan ruh spiritualitas melalui kebudayaan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti budaya “menara gading” di kalangan seniman. Panca meratapi sepi nya tatapan rekan sejawat di pameran. Baginya, menghadiri pameran sesama seniman adalah ritual solidaritas untuk merawat ekosistem agar tidak kolaps.
Kendati bernada gugatan, Panca tidak pesimis. Ia menyerukan kolaborasi transformatif.
Panca membayangkan lanskap ideal di mana Pemerintah menjadi fasilitator yang tulus, Masyarakat hadir dengan kesadaran kritis, Media menjadi ruang gaung yang jernih, dan Seniman meruntuhkan ego untuk merajut ekosistem seni yang sehat dan bermartabat.
“Sudah selayaknya daerah tempat Cadio bertumbuh memberikan atensi penuh dan legitimasi tertinggi, bukan justru mengasingkannya dalam pengabaian,” tegas Panca.
Pameran Jejak Waktu merupakan retrospeksi 55 tahun karya Cadio Tarompo yang bertujuan mendokumentasikan perjalanan estetika Balikpapan. (NK)



















