PALU – kabaronenews.com – Di bawah langit Ramadan 1447 Hijriah yang penuh ampunan, gema dzikir dan derap langkah kemanusiaan menyatu di markas Majelis Dzikir Nuurul Khairaat Pusat Kota Palu.
Menjelang hari kemenangan, sebuah ikhtiar mulia membuncah, memastikan tak ada satu pun saudara seiman yang kelaparan saat takbir berkumandang.
Melalui tangan-tangan ikhlas para relawan Madinah 517, Majelis Dzikir Nuurul Khairaat yang dipandu langsung oleh Sang Murobbi, Habib Muhammad Sholeh Al Aydrus, berhasil menghimpun dan menyalurkan amanah umat berupa 8.043 kilogram beras serta 500 paket sembako.
Sinergi Kebaikan dalam Wadah ABAS
Cinta yang besar tak bisa dipanggul sendirian. Melalui wadah Amal Bakti Sosial (ABAS), arus kebaikan mengalir deras dari berbagai lembaga dan yayasan, mulai dari Kemenag Sulteng, BAZNAS Provinsi Sulawesi Tengah, Yayasan Haji Anif, WIA (Wanita Islam Alkhairaat), Sahabat Masjid, Kurir Sedekah Jariyah-Daruttasir Palu, Act, PASKAS (Pasukan Amal Sholeh), hingga Indonesia Care.
Sejak sepuluh malam kedua Ramadhan, para asatidz telah bersiaga ba’da Dzuhur, menyambut tangan-tangan jamaah yang datang menunaikan kewajiban zakat fitrah sebagai pembersih jiwa dan penyempurna puasa.
Peluh yang Menjelma Saksi di Akhirat
Pemandangan haru menyeruak di teras majelis. Dari anak-anak hingga dewasa, laki-laki dan perempuan, bahu-membahu mengemas beras ke dalam kantong-kantong 4 dan 5 kilogram. Di tengah riuh rendah pengabdian itu, sosok Habib Sholeh Al Aydrus tampak tak kenal lelah mengawasi setiap timbangan, memastikan setiap gram amanah umat tertakar dengan sempurna.
“Kami hanya mengharap wajah Allah SWT. Tiada upah dunia yang kami cari, hanya ridha-Nya yang kami dambakan,” tutur para relawan dengan mata berkaca-kaca namun penuh ketegasan.
Menembus Batas demi Saudara Muallaf
Puncak perjuangan terjadi pada 18-19 Maret 2026. Zakat ini tidak sekadar dibagikan, tapi diantarkan langsung ke jantung pertahanan iman di 35 daerah binaan, termasuk 15 titik pemukiman Muallaf yang tersebar di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Donggala.
Para relawan harus berjibaku menembus wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Di Dusun Debugi, Kabupaten Sigi, Ustadz Aci selaku koordinator atau penanggung jawab lapangan, mengungkapkan betapa berat namun mulianya amanah ini.
“Ini adalah perintah dari guru kami, Habib Sholeh. Ini adalah tugas langit. Kami mengantarkannya dengan sukacita, memastikan hak para mustahik sampai ke tangan mereka tepat waktu,” ujar Ustadz Aci dengan nada haru.
Di balik butiran beras yang tersalurkan, ada doa-doa yang melangit dari para dhuafa dan muallaf.
Majelis Dzikir Nuurul Khairaat kembali membuktikan bahwa Islam adalah agama rahmat, dan zakat adalah jembatan cinta yang merekatkan hati manusia dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.
NK



















